Sebuah perjalanan panjang dari hutan belukar Gedung Pakuon hingga menjadi pusat pemukiman dan pemerintahan yang modern di jantung Kota Bandar Lampung.
Sekitar tahun 1825, warga masyarakat dari Gedung Pakuon mulai membuka hutan belukar yang subur di daerah ini untuk dijadikan ladang dan kebun. Kesuburan tanah menarik lebih banyak warga untuk datang dan membuka sawah serta perkebunan.
Jarak tempuh yang jauh ke Gedung Pakuon membuat para petani membangun gubuk-gubuk. Gubuk ini berkembang menjadi perkampungan kecil untuk menjaga tanaman dari hama babi hutan.
"Terpilihlah Bapak Syawal sebagai Ketua Kampung pertama untuk mewakili 20 Kepala Keluarga saat itu."
Kebutuhan pendidikan agama mendesak. Seorang guru mengaji mengusulkan nama kampung diambil dari aktivitas "Mengajar" mengaji yang rutin dilakukan di surau baru.
Mengajar → PENGAJARAN
Terletak di tengah Kota Bandar Lampung, dilalui jalan protokol Wolter Monginsidi.
Di sebelah Barat/Utara terdapat mata air peninggalan zaman Belanda yang dikenal sebagai "Gedung Air". Mata air ini tidak pernah kering dan dahulu dialirkan hingga ke wilayah Kupang Kota. Pipa-pipa tua masih menjadi saksi bisu sejarah di belakang Brimob Polda.
Alam Kelurahan Pengajaran terdiri dari tanah datar, miring, dan berbukit dengan tanah merah liat. Sungai kecil membelah kelurahan yang menjadi jalur air alami saat hujan.
Luas Wilayah
Lingkungan
Rukun Tetangga (RT)
Mayoritas penduduk adalah pribumi Lampung Pesisir (Saibatin) yang hidup berdampingan harmonis dengan pendatang dari Jawa Barat dan suku lainnya. Asimilasi budaya berjalan baik dalam adat istiadat maupun pemerintahan.
Semangat kebersamaan yang telah tertanam sejak awal pembukaan lahan untuk kehidupan yang harmonis.
Pendidikan menjadi prioritas utama bagi seluruh warga untuk memajukan generasi penerus yang cerdas.
Mayoritas warga beragama Islam, hidup rukun berdampingan secara harmonis dengan pemeluk agama lainnya.