Warisan & Budaya

Menelusuri Jejak
Sejarah Pengajaran

Sebuah perjalanan panjang dari hutan belukar Gedung Pakuon hingga menjadi pusat pemukiman dan pemerintahan yang modern di jantung Kota Bandar Lampung.

1825

Awal Mula Peradaban

Sekitar tahun 1825, warga masyarakat dari Gedung Pakuon mulai membuka hutan belukar yang subur di daerah ini untuk dijadikan ladang dan kebun. Kesuburan tanah menarik lebih banyak warga untuk datang dan membuka sawah serta perkebunan.

Tahun 1825
Pembentukan Kampung

Gubuk Menjadi Pemukiman

Jarak tempuh yang jauh ke Gedung Pakuon membuat para petani membangun gubuk-gubuk. Gubuk ini berkembang menjadi perkampungan kecil untuk menjaga tanaman dari hama babi hutan.

"Terpilihlah Bapak Syawal sebagai Ketua Kampung pertama untuk mewakili 20 Kepala Keluarga saat itu."

Lahirnya Nama "PENGAJARAN"

Kebutuhan pendidikan agama mendesak. Seorang guru mengaji mengusulkan nama kampung diambil dari aktivitas "Mengajar" mengaji yang rutin dilakukan di surau baru.

Mengajar → PENGAJARAN

Filosofi Nama
Kondisi Geografis
Lokasi Strategis

Terletak di tengah Kota Bandar Lampung, dilalui jalan protokol Wolter Monginsidi.

Jejak Peninggalan & Geografis

1

Gedung Air (Mata Air Abadi)

Di sebelah Barat/Utara terdapat mata air peninggalan zaman Belanda yang dikenal sebagai "Gedung Air". Mata air ini tidak pernah kering dan dahulu dialirkan hingga ke wilayah Kupang Kota. Pipa-pipa tua masih menjadi saksi bisu sejarah di belakang Brimob Polda.

2

Kontur Alam

Alam Kelurahan Pengajaran terdiri dari tanah datar, miring, dan berbukit dengan tanah merah liat. Sungai kecil membelah kelurahan yang menjadi jalur air alami saat hujan.

Data Administratif

Statistik & Data Wilayah

67,4 Ha

Luas Wilayah

2

Lingkungan

20

Rukun Tetangga (RT)

Batas Wilayah

Utara
Kel. Gotong Royong
Selatan
Kel. Sumur Putri
Barat
Kel. Sumur Putri
Timur
Kel. Gulak Galik

Orbitas (Jarak Pusat)

Ke Kantor Kecamatan 1,5 km
Ke Kota Administratif 1,8 km
Ke Ibu Kota Provinsi 1 km
Ke Ibu Kota Negara 502 km

Harmoni Sosial Budaya

Mayoritas penduduk adalah pribumi Lampung Pesisir (Saibatin) yang hidup berdampingan harmonis dengan pendatang dari Jawa Barat dan suku lainnya. Asimilasi budaya berjalan baik dalam adat istiadat maupun pemerintahan.

Gotong Royong

Semangat kebersamaan yang telah tertanam sejak awal pembukaan lahan untuk kehidupan yang harmonis.

Pendidikan

Pendidikan menjadi prioritas utama bagi seluruh warga untuk memajukan generasi penerus yang cerdas.

Religius

Mayoritas warga beragama Islam, hidup rukun berdampingan secara harmonis dengan pemeluk agama lainnya.